Senin, 16 Juli 2012
Pilpres 2014 Tak Ada Lagi Pertarungan Ideologi Partai
Pilpres 2014 Tak Ada Lagi Pertarungan Ideologi Partai
Tegar Arief Fadly - Okezone
Selasa, 17 Juli 2012 00:07 wib
JAKARTA - Banyak pihak yang menilai bahwa pada pemilihan presiden 2014 mendatang akan banyak bermunculan tokoh-tokoh baru, tak terkecuali dari kalangan pemuda. Namun, menurut Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Tohari, pilpres mendatang akan muncul pertarungan antar figur, bukan pertarungan antara ideologi suatu partai.
"Memang benar tidak ada pertarungan ideologi dalam Pilpres 2014. Dari nama-nama yang muncul ke permukaan memang susah untuk membedakan warna ideologi mereka masing-masing," kata dia saat dihubungi wartawan, Senin (16/07/2012).
Hajriyanto membandingkan sistem Pilpres di Indonesia dengan Amerika. Di Amerika, calon yang maju sebagai presiden memiliki ideologi jelas. Mana yang konservatif, mana yang liberal. Meskipun ada kecenderungan semuanya ke tengah, tetapi tetap kelihatan jelas mana yang kanan tengah atau mana yang kiri tengah.
"Sementara di Indonesia babar pisan, tidak ada bedanya. Secara ideologis mereka sama, yaitu ideologi ingin berkuasa menjadi presiden, itu saja. Sementara program-programnya hanyalah aksesoris belaka," tegasnya.
Dalam Pilpres, sambung Hajriyanto, jangankan pertarungan ideologi, bahkan paradigma partai politik pengusungnya saja seringkali tidak tercermin dalam figur pasangan capres dan cawapresnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa partai yang berbasis Islam yang mengusung figur yang bukan berasal dari partai berbasis Islam, misalnya dari partai nasionalis.
"Dalam satu hal kecenderungan ini positif karena menunjukkan tuntasnya Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah bangsa. Tetapi dari aspek lain ada negatifnya, yaitu terjebak dalam ideologi pragmatisme yang kering nilai dan cita-cita luhur. Akhirnya perpolitikan nasional terjebak dalam pragmatisme materialistis," paparnya.
Untuk itu, banyak kalangan yang berharap agar masing-masing parpaol melakukan regenerasi. Namun menurut Hajriyanto, regenerasi yang dilakukan selama ini tidak murni berlandaskan keinginan untuk menciptakan pemimpin baru yang bisa merubah arah masa depan bangsa. Namun hanya berdasarkan pada kekecewaan terhadap politisi tua.
"Karena kejenuhan atau bahkan kekesalan kepada yang tua maka muncullah gelombang tuntutan regenerasi. Tetapi generasi baru yang seperti apa mereka juga tidak tahu. Pokoknya yang penting ada regenerasi karena kecewa pada yang tua-tua," tandasnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Entri Populer
-
SUARA PEMBARUAN DAILY BHP, Paradigma Baru atau Privatisasi Pendidikan? Pengantar Kalangan kampus da...
-
Trias Politika Mohammad Ali Andrias.,S.IP.,M.Si Refleksi Memahami Trias Politika Trias poli...
-
PKS OPOSISI ATAU TETAP KOALISI ? OLEH : MOHAMMAD ALI ANDRIAS.,S.IP.,M.Si Gelombang demokratisasi di Indonesia dan tumbuh kembang...
-
Mau Jadi Anggota DPR ? Ini Biaya yang Harus Dikeluarkan OKEZONE.COM (Rabu, 9 Mei 2012) Politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjua...
-
Jerussalem, Kota Suci Yang Penuh Konflik Oleh : Mohammad Ali Andrias Jerusalem kota suci yang penuh makna sejarah, kota yang yang dimi...
-
“Perburuan Rente” Kekuasaan 2009-2014 Oleh : Mohammad Ali Andrias Perburuan rente merupakan fenomena yang sering kita temukan pada masalah...
-
Apakah Posisi Golkar Benar-Benar Terancam ? Oleh : Mohammad Ali Andrias Menanggapi hasil survei yang dilakukan tiga lembaga yang berbeda S...
-
PPI Jerman Tolak Kedatangan Anggota Komisi I DPR-RI di Jerman Sumber : Kompas Forum Perhimpunan Pelajar Indonesia di Jerman, bersama...
-
Struktur dan Budaya Politik dalam Sistem Politik Oleh : Mohammad Ali Andrias.,S.IP.,M.Si Pemahaman tentang struktur dan budaya politi...
-
PARANOID POLITIK Paranoid politik bagi kalangan elite-elite politik yang sudah merasakan “manisnya” kekuasaan memang pasti terjadi. ...



0 komentar:
Posting Komentar